Langsung ke konten utama

SEJARAH SINGKAT HURUF BRAILLE


Tuhan menciptakan kekurangan pada diri manusia, tetapi Tuhan memberikan kelebihan kepada manusia. Sebaik-baik manusia adalah yang memanfaatkan kelebihannya untuk kemaslahatan sesamanya. Ketidaksempurnaan raga bukan penghalang untuk membuat hidup orang lain lebih sempurna dan bahagia.

huruf brailleManusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang paling sempurna. Kesempurnaan bentuk itu merupakan anugerah sekaligus perintah agar memanfaatkan kesempurnaannya untuk menjadi khalifah di muka bumi. Salah satu tanda anugerah itu ialah kesempurnaan panca indera. Mata merupakan karunia sebagai penyempurna panca indera manusia. Mata dibaratkan jendela jiwa karena dapat melukiskan perasaan hati seseorang, bahkan bisa mendeteksi kebohongan atau kejujuran seseorang.

Namun, tidak semua orang memiliki kesempurnaan panca indera. Banyak orang yang tidak bisa melihat karena pembawaan atau karena penyakit tertentu. Kebutaan, secara fisik memang sebuah keterbatasan atau kekurangan, tetapi di sisi lain bisa memiliki kelebihan yang berarti. Intuisi dan kepekaan orang yang tidak bisa melihat biasanya lebih tajam daripada orang yang sempurna panca inderanya. Buta mata tidak berarti buta hati.Mungkin kalimat itu juga pantas untuk menggambarkan sosok yang sangat peduli terhadap nasib dan kehidupan sesamanya, Louis Braille. Keterbatasan penglihatan tidak membuatnya berpikir terbatas, justru mampu membuatnya berkarya, menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi para tunanetra.
Dalam buku Tell Me When – Science and Technology, Louis Braille menciptakan Sistem Braille pada tahun 1829. Sistem ini dikembangkannya untuk memungkinkan para tunanetra sepertinya bisa membaca dan menulis. Sebelumnya, pada tahun 1517, sebuah sistem membaca untuk para tunanetra diciptakan. Huruf Alfabet diukir pada balok kayu agar tunanetra dapat membaca. Sistem ini memang sangat membantu perkembangan membaca para tunanetra di masa itu, tetapi ada kekurangannya yaitu para tunanetra tidak dapat membayangkan bentuk huruf ketika mereka ingin menulis.
Dengan adanya kekurangan ini, Braille mencoba menciptakan sistem yang lebih lengkap. Sistem Braille yang ia ciptakan terdiri dari sejumlah titik. Setiap huruf Alfabet diwakili oleh gabungan titik. Gabungan titik ini ditekankan pada kertas hingga menimbulkan tonjolan. Para tunanetra cukup menggerakkan jarinya pada tonjolan tersebut untuk mengenali setiap huruf dan menyusun kata-kata. Ujung jari sangat sensitif terhadap tekstur, sehingga bentuk  huruf Braille dapat dirasakan para tunanetra. Sebuah proses, sistem dan analisa  yang sederhana pada awalnya, tetapi mampu mengubah perspektif dan persepsi dunia terhadap eksistensi dan kapabilitas tunanetra.
Hingga saat ini, karya Braille ini masih digunakan karena terbukti mampu meningkatkan kemampuan baca-tulis tunanetra. Namun, dalam perkembangannya, huruf Alfabet yang dirancang dalam sistem Braille mengalami perkembangan dari segi pembuatan dan penggunaannya. Banyak huruf Braille diciptakan dari bahan yang tidak mudah lapuk dan tahan lama. Belakangan, bagi para tunanetra juga disediakan Braille dalam huruf-huruf Hijaiyah (Huruf-huruf Arab). Tentu saja tujuannya agar selain mampu mengucapkan surat-surat yang mereka pelajari melalui indera pendengaran, mereka juga dapat belajar membaca dan menulis huruf-huruf Hijaiyah secara mandiri. Perkembangan ilmu pengetahuan dapat dijadikan alat dan lahan syiar, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Yang Maha Sempurna. Sebuah karya Braille yang benar-benar menginspirasi banyak orang untuk menghidupkan kegelapan.


Sumber : http://niahidayati.net/sejarah-dan-manfaat-huruf-braille.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK ANAK TUNANETRA

ANAK TUNANETRA A.  Pengertian Tunanetra Pengertian tunanetra menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tidak dapat melihat (KBBI, 1989:p.971) dan menurut literatur berbahasa Inggris  visually handicapped  atau visual impaired.  Pada umumnya orang mengira bahwa tunanetra identik dengan buta, padahal tidaklah demikian karena tunanetra dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori. Anak yang mengalami gangguan penglihatan dapat didefinisikan sebagai anak yang rusak penglihatannya yang walaupun dibantu dengan perbaikan, masih mempunyai pengaruh yang merugikan bagi anak yang yang bersangkutan (Scholl, 1986:p.29). Pengertian ini mencakup anak yang masih memiliki sisa penglihatan dan yang buta. Dengan demikian, pengertian anak tunanetra adalah individu yang indera penglihatannya (kedua-duanya) tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari seperti orang awas. B.  Klasifikasi Anak Tunanetra Klasifikasi yang dialami oleh anak tunanetra, anta

[COVER] AKU MAU. KEMIL in HDI PLB UNS

SISI, TEKNOLOGI KOMUNIKASI PENDERITA BISU TULI

Salah satu divisi penggunaan software IBM menciptakan sebuah teknologi yang akan membantu penderita bisu tuli berkirim dan terima pesan suara lewat handphone. Sebentar lagi penderita bisu tuli akan bisa menikmati komunikasi lewat handphone dimana selama ini sangat sulit dilakukan bagi penderita bisu dan tuli untuk berkomunikasi. Extreme Bluetooth mengenalkan sebuah software bernama SISI (Say It, Sign It). Software ini memiliki tampilan avatar (animasi virtual) cewek yang bernama Sisi juga dimana bisa melakukan bahasa isyarat buat orang bisu tuli. Sistem kerjanya cukup sederhana, tinggal memasukkan pesan suara ke handphone dan Sisi akan mengubah pesan itu menjadi vido klip si avatar cewek tadi. Dengan demikian pihak penerima bisa mengerti pesan yang disampaikan dengan jelas, asal dia sudah ta hu bahasa isyarat. Saat ini Sisi masih terbatas untuk kirim pesan suara, belum bisa digunakan untuk bertelepon langsung. Software yang menggunakan bahasa program Java ini merupakan langkah